Sedikit berbagi cerita dari pengalaman saya.
Ini tentang sebuah perkenalan yang sangat memberikan arti dalam kehidupan saya dengan seseorang. Terutama dalam keyakinan diri saya sendiri. Dari sini, kehidupan saya telah diuji. Kesabaran,keikhlasan dan kekuatan untuk menjalani kehidupan yang layak selanjutnya. Mungkin cerita saya ini spele,sama saja seperti seorang anak muda yang sedang merasakan kehilangan seseorang. Kehidupan saya ini belum ada apa apanya dibandingkan dengan orang lain yang mempunyai masalah yang lebih besar dari ini. Jujur saya hanya becerita di blog ini.menuliskan perjalanan hidup saya. Dan ini adalah cara Tuhan untuk membuat saya menjadi lebih kuat dijalan-Nya.
Pertemuan berawal dari sebuah club malam di sekitaran bilangan Jakarta. Dimulai dengan sebuah perkenalan dari teman yang pada saat itu sedang merayakan ulang tahun. Mungkin sebagian besar menilai bahwa pertemuan di sebuah hiburan malam itu adalah awal yang kurang baik. Mendengar hal itu saya hanya bisa mengacuhkannya,karena belum tentu semua yang orang sama dengan penilaian orang lain. Bagi saya perkenalan ini adalah jalan Tuhan untuk membantu membentuk kepribadian diri saya. Perkenalan ini sangat begitu singkat hingga pada akhirnya saya telah mendapatkan seseorang yang selama ini saya inginkan. Seseorang yang berani mengajak saya menjalani hubungan yang lebih serius. Bagaimana tidak diumur 19 tahun saya direncanakan untuk dinikahi, saya sangat bahagia mendengar hal itu dan ini adalah bagian dari impian saya untuk menikah muda. Yang saya pikirkan saat itu,baiklah jika ada yang ingin mengajak saya menikah,ayok kita sama sama bangun impian kita. Menjemput impian tidaklah mudah, butuh proses yang keras untuk mencapainya.
Pada saat itulah saya dan dia mulai membangun mimpi kita. Membicarakan pekerjaan saya,penghasilan saya dan terlebih dia. Saya adalah seorang karyawati di salah satu perusahaan asing di jakarta, kurang lebih saya sudah bekerja disini sekita 1,5 tahun. Dengan penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan saya. Dia adalah seorang pebisnis yang bisa dibilang jika ada proyek dia bisa mendapatkan lebih tetapi jika tidak ada ya memang tidak ada. Entah saya yakin walaupun dia pada saat itu tidak ada proyek,tetapi dia mempunyai banyak sampingan dan masi tetap berpenghasilan. Mulai dari menjadi photografer freelance,menjalankan sebuah EO dan memulai usaha dengan berdagang sushi. Sushi adalah salah satu makanan favorite saya begitu juga dengan dia,dia sangat hobi dengan memasak. Dengan dia berdagang sushi,mulai dari resep,bahan dan cara membuatnya dia hanya mencari tau melalui internet. Sampai pada suatu ketika, sushi buatannya mendapatkan apresisasi dari orang orang sekitar,karena sushi yang dia buat cukup mempunyai nilai harga jual. Akhirnya untuk mencoba peruntungan dia membuka kedai di daerah sekitaran cikokol-tangerang, karena daerah tersebut kurang strategis alhasil dia tidak memperpanjang kembali untuk menyewa kedai tersebut. Setelah itu, dia berserta keluarganya membuka kedai di halaman rumahnya. Selain tidak harus membayar sewa tempat, untuk mengatur produksi lebih mudah. Karena permintaan meningkat dari konsumen, kakaknya pun ikut membantu berjualan sushi disekitaran daerah karawaci tangerang. Dengan cara berjualan di pasar kaget atau berkeliling dari satu sekolah ke sekolah lain, pernah sepertinya berjualan di sekitaran perkantoran. Ya saya lupa pada saat itu, saya hanya ingat jika saya bisa datang pagi saya ikut berjualan dengan kakaknya setiap hari minggu. Hari minggu adalah hari dimana saya datang kerumahnya, entah membantu ibu jika ada catering ya atau sekedar ketemu dengan dia. Pokoknya selama saya menjalin hubungan dengan dia, rumahnya selalu saja banyak acara. Saya seneng terkadang bisa membantu sedikit tenaga saya di usaha keluarganya, dari situ saya tahu dunia catering produksinya seperti apa. Waktu SD sempat terlintas, suatu saat pengen punya usaha catering apalagi kalau catering khusus perusahaan seperti itu pasti duitnya banyak. hahahah. Ya itu hanya angan angan saya, maka dari itu bahagia banget bisa berkenalan dengan dia beserta keluarga besarnya.
Tak terasa menjalani hubungan ini sudah setahun, begitu bahagia karena saat ini saya merasa mendapatkan seseorang yang telah menyayangi saya dan memperjuangkan untuk menghalalkan saya. Ya tentu saja sebagai istrinya,calon pendamping hidupnya kelak. Ketika di awal kami berpacaran, kami sangat mendapatkan restu dari kedua belah pihak orang tua kami,tetapi setelah setahun berjalan ada keganjalan dari orang tua saya. Secara tiba tiba mereka melarang saya untuk bertemu dan menghampiri dia kerumahnya. Karena selama ini hampir setiap minggu saya selalu berkunjung kerumahnya,untuk bersilahturahmi dengan keluarganya sekalian juga kami bertemu karena waktu kami bertemu hanya satu dalam seminggu. Setelah ada tentangan dari orang tua saya,saya sedikit mengacuhkan karena saya hanya terlalu fokus pada impian kita pada saat itu,"menikah". Mungkin secara tidak langsung dia tidak berbicara seperti itu kepada saya, tapi saya yakin selama ini usaha dia mulai dari membuka kedai sushi, fotographer freelance dan menjalankan beberapa proyek lainnya itu untuk mewujudkan impiannya. Saya hanya bisa mendampingi dia pada saat itu, mensupport dia dan terutama selalu berdoa untuk dia. Aku yakin, suatu saat kelak dia akan menjadi seorang wirausaha yang sukses. Dan aku yakin itu.
Banyak hal hal yang telah aku lalui dengan dia dari mulai bahagia,sedih,susah,bertengkar karena perbedaan pendapat,cemburu. Semua telah aku lalui dengan dia,tetapi itu membuat hubungan kami sangat berwarna. Semakin bertengkar kami semakin bisa merasakan kasih sayang satu sama lain. Dan itu adalah kunci hubungan kami tetap berjalan. Selama 12 bulan berjalan kami juga merasakan yang namanya putus nyambung,tetapi itu hanya bertahan sehari. Setelah itu hubungan kami kembali lagi seperti dahulu,bahkan dengan adanya putus sementara,itu membuat hubungan kami lebih bertahan dan lebih mengintropeksi diri kami masing masing apa kesalahannya dan mecoba memperbaiki. Dia itu tampil dengan apa adanya,sangat sederhana dan itu yang membuat saya tertarik dengannya. Ya mungkin dia mempunyai rambut yang agak gondrong untuk seukuran wajar bagi lelaki, jadi terlihat kurang rapih, berpakaian sesuka dia dengan kaos orange kesukaan dia dan celana pendek. Entah kenapa bagi saya itu tidak penting, tetapi tidak untuk kedua orang tuaku. Orang tuaku menilai dari penampilan, ya sewajarnya orang tua yang menilai dari penampilan dahulu. Perlahan aku membicarakan hal ini kepada dia, terutama rambut mencoba untuk memangkasnya tetapi dia belum ada tanggapan. Entah mengapa, setiap ada permintaan dari saya walaupun dia tidak menjawab pasti selalu terlintas jawaban itu dipikiran saya. "Dia akan memotong rambut tapi tidak untuk saat ini" itulah jawaban yang ada dipikiran saya, ketika saya meminta untuk merapihkan rambut.
Dimulai dengan orang tua saya yang tidak suka rambutnya yang begitu gondrong, kata orang tua saya tidak rapih atau apalah itu dengan demikian akhirnya saya berbicara kembali dengan perlahan dan penuh hati hati agar dia tidak tersinggung, bahwa orang tuaku tidak suka dengan gaya rambutnya, coba sedikit agak dirapihkan siapa tau dengan begitu orang tua aku lebih meridhai hubungan kita. Tidak berapa lama kemudian, ada sebuah chat dari dia dengan sebuah foto berisikan fotonya dengan rambut dia yang langsung cepak. Kaget, bahagia campur aduk ketika dia melakukan hal sedemikian. Pasti dengan sebuah alasan dia melakukan itu bukan demi saya, tetapi demi hubungan kita dan juga untuk orang tuaku. Dari situ saya sangat begitu menyayanginya, karena saya mendapatkan seseorang yang benar benar menyayangi saya,mempertahankan dan berjuang demi hubungan kami. Tiga belas bulan berjalan,orang tua saya memberikan peringatan kembali kepada saya. Entah ada angin apa,saya pun kurang mengetahuinya tiba tiba orang tua saya mulai memarahi saya kembali sehabis saya pulang dengan nya hari itu. Begitu kaget hati ini,ketika mendengar dan harus mencari lagi orang selain dia. Orang yang mempunyai pekerjaan tetap. Begitu sedih hati ini, menyesak dada ini ketika harus melakukan itu. Saya sudah tidak tau harus berbuat apa lagi,bercerita kepada siapa dan apa yang harus saya lakukan. Sepertiga malam saya selalu berdoa untuk meminta jalan kepada Sang Pencipta,memohon untuk diberikan jalan dan diberikan ketenangan hati saya. Saya tidak ingin menyakiti orang tua yang sudah membesarkan saya,merawat saya,membanting tulang untuk pendidikan saya disamping itu juga saya tidak ingin mengecewakan orang yang sudah sama sama berjuang setahun belakangan ini,berjuang untuk impian kami,bersusah payah untuk mewujudkan impian kami dan hancur hanya karena permintaan ini. Rasanya hanya ingin becerita kepada Tuhan,tidak bisa bercerita kepada siapa pun. Termasuk dia,aku sangat menjaga hatinya. Aku tidak ingin dia bersedih,aku tidak ingin dia memikirkan hal ini karena sudah banyak masalah intern dia yang dia tidak ceritakan kepada saya. Tetapi saya tau,apa masalah yang dia hadapi pada saat itu,walaupun dia tidak bercerita.
Sampai akhirnya,saya sudah tidak kuat lagi menahan beban saya kepada orang tua saya. Setiap hari orang tua saya menanyakan hal itu bahkan saya tidak boleh bertemu dengannya. Saya juga berfikir jika saya tidak bercerita kepada dia,bagaimana penyelesaiannya. Hanya dia dan aku yang bisa menemukan jalan keluarnya. Hari demi hari saya memikirkan hal ini, mencari jalan keluar. Dengan hati yang sangat dalam, saya bercerita kepada dia apa yang selama ini sangat memberatkan pikiran saya. Saya menceritakan bahwa orang tua saya ingin mendapatkan menantu yang mempunyai pekerjaan tetap. Padahal di dalam diri saya, siapapun dia asalkan dia ada kemauan berusaha disitu pasti akan ada rezeki. Terdiam menanti jawaban apa yang akan dia katakan sambil meneteskan air mata tanpa sepengetahuannya. Sesak sesaat, merasakan getaran dari sebuah menahan air mata yang ingin deras mengalir. Detakan jantung yang begitu cepat seakan ingin memeluk dia dan menangis di pelukannya sambil berkata "Maakan aku, sayang". Sudah lemas jantung ini menahan pompaan untuk mengeluarkan air mata dan berusaha untuk menahannya. Seketika dia tidak menyanggupi akan hal ini. Padahal ini adalah salah satu jalan untuk kami,hubungan kami. Di satu sisi saya sangat mengetahui dia dan sangat mengerti hal hal apa saja yang telah dia usahakan untuk hubungan kami. Walaupun dia tidak punya penghasilan tetap tetapi dia masih berpenghasilan dan saya merasakan itu. Saya sangat memahami itu dan saya sangat menerima itu. Disitulah saya sudah di titik puncak "berserah diri" kepada Tuhan. Hanya Dialah yang mampu memberikan jalan yang terbaik. Saya pun tidak ingin terlalu membuat dia makin sedih,karena selama saya menjalin hubungan, dia yang sudah terlalu banyak berkorban untuk hubungan kami. Dia telah memotong rambut, dia pernah mengerjakan suatu proyek untuk design arsitekturnya sempat juga saya pernah diajak ke proyeknya, pernah diajak juga ikut meeting untuk beberapa proyek yang lain, mendatangi sebuah proyek yang akan dibangun olehnya. Dia juga pernah mengikuti event di bilangan jakarta selama 4 hari,karena rumah kami sudah berbeda provinsi dia pernah menginap dirumah saya dengan tidur diruang tamu disebuah sofa yang kurang jika bisa dikatakan enak untuk tidur nyenyak. Pada saat event berlangsung dia pernah sampai sakit kakinya,karena kelamaan menggunakan sepatu. Kuku jempol kakinya sampai terkelupas,akhirnya saya bantu dia untuk mengobatinya. Dengan perasaan linu jika melihat darah,saya tetap membantunya walaupun dia berkali kali bicara tidak apa apa,tetapi bagi saya itu sakit. Dia berjalan saja sampai terpincang pincang kebetulan pada saat event berlangsung kami berangkat bersama menggunakan transjakarta. Dan itu pertama kalinya dia naik bis bersama saya, katanya sambil dia membidik gambar saya melalu ponselnya. Saya berfikir, apalagi itu yang berdiri dari pagi sampai malam dalam acara pameran suatu produk pasti dia menahan sakit sepanjang acara. Karena dia tidak terbiasa untuk menggunakan sepatu saya berkata,sudah mending jangan dilanjutkan kembali pamerannya,itu kaki pasti sakit sekali jika dibawa berdiri terlalu lama tetapi dia tetap dengan pendiriannya dia tetap melanjutkan pameran tersebut sampai 4 hari berturut turut sambil dia berkata kepada saya "Uangnya lumayan buat kita jalan" terenyuh hati ini ketika mendengar hal itu, dengan menahan kagum melihat kesederhanannya dan keterbukaannya kepada saya. Sungguh, saya membutuhkan sosok seperti ini kelak. Berusaha, berjuang, terbuka satu sama lain untuk hubungan kami. Ini yang saya butuhkan, sama sama membangun dari awal.
Dia pernah menjalankan sebuah proyek, pada saat itu proyeknya sedikit tersendat. Ada seorang investor yang meminta uangnya. Karena proyeknya itu belum selesai, dia diminta untuk mengembalikan uangnya beserta profitnya. Uang tersebut tidak sedikit saya juga tidak tau pasti berapa nominalnya dan yang pasti jika dia pada saat itu harus mengganti,dia pun masih belum sanggup. Mungkin orang yang berpengahasilan tetap pun tidak akan mampu untuk menggantinya. Dan dia hanya berkata kepada saya dengan raut wajah yang sangat penuh kebingungan dan terlihat kusut banyak masalah "Sayang,kalo aku ada apa apa kamu tetap tenang ya jangan panik pasti aku baik baik aja.Ya yang pasti semoga tidak akan terjadi apa apa" dia tidak menjelaskan secara detail tetapi saya tau maksutnya saya tau apa masalanya dan saya tau apa resikonya kelak. Dengan berbesar hati saya tetap tenang bercampur hati yang penuh khawatir dan lagi lagi menahan tangis di depannya. Menahan sedih tidak dapat berkata apa apa dan saya cuma berdoa "semoga tidak terjadi apa apa dengannya,lindungi dia,lancarkan selalu dia dalam setiap usahanya dan bantu dia jika dalam kesulitan" hanya itu yang bisa saya lakukan dan cuma doa yang bisa saya panjatkan untuknya. Alhamdulillah,ternyata tidak ada apa apa yang terjadi dengannya karena saya setiap hari saya selalu panik jika menerimah pesan atau telepon takut terjadi hal hal yang tidak diinginkan Selalu sepertiga malam saya berdoa meminta petunjuk untuk hubungan kami tidak lupa mendoakan kedua orang tua saya.
ini titik akhirnya,akhir dari segala semua perjuangan yang telah kami lakukan. Tepat 14 bulan kami menjalani hubungan kami. Akhirnya hubungan kami berakhir dengan tidak adanya restu dari orang tua saya. Semakin hari orang tua saya terus menyindir hubungan saya, Dengan pada akhirnya,saya pun sudah tidak kuat lagi. Dia pun tetap dengan pendiriannya dengan berwirausaha dengan caranya dan orang tua saya tetap ingin dengan pendirian mereka mendapatkan seorang menantu dengan penghasilan yang tetap. Ini sudah benar benar menggangu psikologis saya secara tidak langsung. Saya selalu memikirkan hal ini,dan selalu menangis di tengah tengah pekerjaan saya. Saya memutuskan untuk mengakhiri hubungan ini,dengan memiilih keinginan orang tua saya. Saya tidak ingin menyakiti kedua orang tua saya,saya pun tidak ingin menyakiti dia secara terus menerus. Dengan hati yang sangat sakit,sedih dan hati yang belum siap kehilangan dia, saya memutuskan dia. Saya merasa hidup saya berantakan,tidak bersemangat,hari hari saya aneh tanpa dia tetapi saya berfikir hidup ini terus berjalan.
Setelah sebulan berseling saya putus dengan dia, tidak berapa lama saya sudah mempunyai pacar lagi. Dan tentu rasa sayang saya tidak sebesar yang dulu saya rasakan kepada dia. Saya pacaran dengan yang ini, hanya untuk menyenangkan hati orang tua saya. Karena orang ini mempunyai pekerjaan tetap, lulusan dari sebuah Institut Pemerintahan Dalam Negeri. Orang tua saya sangat senang, melihatnya senyum mereka bahagia. Tetapi tidak untuk hati saya, hati saya masih kepada dia. Saya mungkin adalah orang yang jahat. Telah mengkhianati orang yang benar benar mencintai saya. Saya yakin pasti dia kecewa besar dengan saya, berselang sehari saya putus dengan dia. Saya sudah jalan dengan orang ini, ya bukan hal lain. Sebenarnya hanya ingin sedikit menghilangkan rasa kesedihan saya. Apalagi saya diajak untuk menonton sebuah acara Java Jazz Festival pada saat itu. Tentu bagi saya ini adalah hiburan yang tepat. Saya mungkin tidak akan membicarakan pacar baru saya dalam blog ini, karena pada saat menjalani hubungan rasanya itu beda terhadap dia. Bisa dibilang saya pun tidak memiliki rasa lebih terhadap dia. Mungkin secara tidak langsung pacar saya merasakan hal itu, karena tidak ada sikap special dari saya. Dan hubungan kami pun sangat dingin pada saat itu. Entahlah...
Hubungan sayapun tidak berjalan lama dengan orang ini, mungkin sekitar 4 bulan. Hati ini masih terhadap dia. Rasanya ingin lagi memiliki dia, sampai saat ini saya pun masih merasakan hal yang serupa. Bersahabat terhadap masa lalu itu adalah hal yang sulit, tapi saya sedang menjalaninya. Rasa kecewa yang dia rasakan terhadap saya begitu besar. Pernah suatu ketika saya menghubungi dia kembali, menceritakan semuanya tetapi tidak pernah ada tanggapan. Saya sudah mengakui ini adalah kesalahana terbesar saya, mengkhianati dia, memberhentikan semua hubungan saya dan dia denga jalan bersama seseorang. Apa dia tidak mau menerima saya kembali? Sayapun melakukan ini mempunyai alasan. Sangat bertanya tanya kepada diri saya. Sampai pada saat ini, saya masih belum bisa memaafkan diri saya atas kesalahan saya. "Mengenalmu aku mengerti apa arti dari mempertahankan..."
No comments:
Post a Comment